🇮🇩 ID
🇮🇩
ID
Indonesia
🇬🇧
English
English
🇸🇦
Arab
العربية
🇨🇳
Mandarin
中文

Sustainable Cocoa Development Programme – SCDP

Program Peningkatan Ekonomi Daerah Melalui Budidaya Kakao Berkelanjutan

 

Program Pengembangan Ekonomi Daerah (LED) Melalui Budidaya Kakao Berkelanjutan atau disebut Sustainable Cocoa Development Programme – SCDP dilaksanakan sejak 1 Februari 2016 sampai dengan 31 Januari 2020 dan telah berhasil :

  1. Membentuk Satuan Tugas Kakao di tingkat Provinsi yang diresmikan melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur serta Satuan Tugas Kakao pada 5 Kabupaten di Jawa Timur yang diresmikan melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Kabupatenagar berfungsi dengan baik yang beranggotakan Dinas Pertanian / Perkebunan, Dinas Perdagangan / Koperasi, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur, Indonesia Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI) dan Kelompok Tani.
  2. Membentuk Fasilitator Kakao pada 5 Kabupaten yang merupakan perwakilan dari para petani, penyuluh, pembina dan pembimbing budidaya kakao terbaik daerah yang bertugas membantu pelaksanaan kegiatan Satuan Tugas Kakao Daerah dalam membina, mendidik dan mengawasi serta melaksanakan program budidaya kakao berkelanjutan.
  3. Mendidik, melatih dan mendampingi sebanyak 1000 petani, 750 pemuda dan 500 perempuan di 5 kabupaten di Provinsi Jawa Timur tentang tata cara budidaya kakao standar GAP, pengolahan kakao pasca panen, pengolahan produk cokelat dan produk alternatif, pemasaran kakao dan manajemen keuangan.
  4. Membangun 50 hektar Kebun Kakao percontohan di 5 kabupaten di Provinsi Jawa Timur dengan kondisi baik yang berupa 19 hektar kebun baru dan 31 hektar merupakan perbaikan kebun kakao yang kurang produktif.
  5. Menciptakan 842 lapangan pekerjaan bagi para petani, pemuda dan perempuan pada 5 Kabupaten di Jawa Timur saat pelaksanaan budidaya kakao, terutama dalam persiapan lahan, penanaman pohon, membuat lubang tanam dan pemupukan, penanaman bibit kakao serta pemeliharaan kebun. Lapangan pekerjaan ini telah dimanfaatkan oleh 500 petani, 247 pemuda dan 95 perempuan.
  6. Melaksanakan panen perdana buah kakao pada usia tanaman mencapai 30 bulan(2,5 tahun) yang berarti lebh cepat dari target awal – yakni panen saat usia kakao 3 tahun.

Dukungan Kepada Petani, Pemuda dan Perempuan 

Bibit Kakao Klon Unggul (MCC 01 & Sulawesi 02) GRATIS

Pupuk Organik & Kimia GRATIS

Ternak Kambing - Pupuk Organik GRATIS

Pembinaan & Pendampingan - Proses Budidaya Kakao oleh Tim Ahli

Pelatihan Budidaya Kakao Standart GAP

Pelatihan Pasca Panen

Pelatihan Produksi Produk Antara & Pupuk Organik

Pelatihan Pemasaran & Ekspor Kakao

Pelatihan Pengelolaan Keuangan Sederhanan

PANEN KAKAO

Dari analisis lembaga independen Universitas Pembangunan Nasional ‘UPN Veteran’ Surabaya, dalam pelaksanaan SCDP telah berhasil melakukan panen perdana dengan hasil sebagai berikut :

  • Buah banyak (pada ranting cabang bukan pada batang utama).
  • Biji besar (lebih besar dari tanaman kakao terdahulu – bibit jenis hibrida 1994/1995) dengan ukuran 90 – 100 biji kering per 100 gram.
  • Memenuhi Standart Nasional Indonesia – SNI yakni 100 biji kering per 100 gram atau 1 gram per 1 biji kering.
  • Tabel Hasil MONEV Fakultas Pertanian Universitas UPN Veteran Surabaya pada kebun percontohan di 5 Kabupaten.

 

Perbandingan biji kakao fermentasi klon hibrida (1994/1995) ( klon lama yang masih banyak dibudidayakan oleh masyarakat) degan klon MCC 02 dan Sulawesi 01 hasil budidaya kebun percontohan SCDP.

Kelompok tani kakao yang dibentuk telah berhasil melakukan fermentasi dengan baik sesuai Standar Nasional Indonesia – SNI yakni fermentasi selama 5 hari.

Sampai dengan tahun 2020, hasil budidaya kebun kakao percontohan digambarkan pada tabel berikut :

Tabel Hasil Demplot Kakao (2019/2020)

Sumber : Satgas Kakao Daerah

Harga : Rp. 30.000,- – Rp. 33.500,- / Kg biji kering fermentas.

Dari tabel diatas diketahui bahwa rata-rata hasil pembangunan kebun kakao percontohan (DEMPLOT) pada awal panen di 5 kabupaten telah menghasilkan 1,4 ton kering fermentasi.

PENYIAPAN LAPANGAN PEKERJAAN – HASIL PROGRAM KEMITRAAN

Kabupaten Bondowoso

Salah satu anggota Satgas dan Fasilitator Kakao yang berada di lereng Ijen  Kabupaten Bondowoso, Saudari Riska telah berhasil membangun Kedai Nuri dengan salah satu produknya berupa makanan olahan yang berupa cokelat batangan, permen dan cokelat bubuk siap minum dengan merek NURICO.

Pada tahun 2018, Saudari Riska telah berhasil mengolah bubuk cokelat hasil kemitraan dengan PULIT KOKA Indobesia. Saudari Riska telah berhasil menjual biji kakao fermentasi dari kebunnya serta beberapa petani didaerahnya untuk dijual kepada PUSLIT KOKA Indonesia.

Kemudian Saudari Riska membeli bubuk kakao – cokelat dari PUSLIT KOKA Indonesia untuk diolah menjadi makanan olahan yang siap jual.

Kabupaten Trenggalek

Pada awalnya, kegiatan perkakaoan di Kabupaten Trenggalek dimuali dengan pendirian Unit Pengolahan Hasil (UPH) Kakao oleh Pemerintah Daerah yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

UPH kakao ini bertugas menerima penjualan kakao dari para petani yang kemudian difermentasi untuk mendapatkan nilai tambah kemudian menjualnya kepada industri pengolahan kakao.

Pada tahun 2016, Sustainable Cocoa Development Programme – SCDP diluncurkan di Kabupaten Trenggalek. Bupati Trenggalek Dr. H. Emil Elestianto Dardak, M.Sc, yang telah merencanakan Kakao Land di Kabupaten Trenggalek tertantang untuk membuat Rumah Cokelat yang fungsinya tidak hanya menampung biji kakao dari para petani namun juga mengolahnya menjadi produk makanan dan minuman yang siap saji.

Pada tahun 2017, Bupati Trenggalek Dr. H. Emil Elestianto Dardak, M.Sc, merubah UPH kakao menjadi RUMAH COKELAT yang berfungsi sebagai sentra budidaya kakao mulai dari Kantor Satgas Kakao Daerah, Fasilitator Kakao Kabupaten Trenggalek, industri kakao, balai pelatihan kakao dan sarana wisata kota berbasis kakao.

Kabupaten Pacitan

Sebelum peluncuran Sustainable Cocoa Development Programme – SCDP di Kabupaten Pacitan, Kabupaten Pacitan merupakan sentra perkebunan kakao. Terdapat ratusan bahkan ribuan pohn kakao di kebun-kebun masayarakat yang tersebar di hampir seluruh wilayah Pacitan.

Namun karena kurangnya pemahaman, pemeliharaan dan cara pengolahannya akhirnya lambat laun pohon-pohon kakao dikalahkan dengan tanaman-tanaman jenis kayu-kayuan yang lain.

Seperti pada kabupaten-kabupaten lainnya, SCDP diluncurkan pada tahun 2016 yang dilanjutkan audiensi dengan Bupati Indartarto oleh Tim SCDP yang dipimpin langsung oleh Isdarmawan Asrikan, Manager SCDP sekaligus Ketua GPEI Jawa Timur untuk menjelaskan dan mengkoordinasikan program SCDP di Kabupaten Pacitan.

Melihat perkembangannya yang cukup baik dalam budidaya kakao serta pembinaan petani, pemuda dan perempuan, Bupati Pacitan memerintahkan kepada Dinas-dinas terkait untuk merencanakan pembangunan Taman Teknologi Pertanian Kabupaten Pacitan yang didalamnya terdapat program-program pertanian dan perkebunan serta kebun percontohannya juga industri pengolahan kakao.

Pada tahun 2019, Taman Teknologi Pertanian Kabupaten Pacitan telah selesai dan diresmikan langsung oleh Bupati Indartarto dan pada tahun 2020 Kabupaten Pacitan telah berhasil memproduksi makanan olahan dan minuman berbasis cokelat.

Kabupaten Blitar

Berbeda dengan kabupaten lain, Kabupaten Blitar yang telah menjadi pioner dalam industri cokelat dengan wisatanya (Kampung Cokleat), lebih difokuskan pada pengembangan tenaga kerja (kelompok tani, pemuda dan perempuan) agar dapat tercapai budidaya kakao yang berkelanjutan dengan ditunjang tenaga kerja yang terampil.

SCDP melalui Satuan Tugas telah mendorong koordinasi yang telah dilakukan di tingkat desa (MUSRENBANGDES), tingkat kecamatan (MUSRENBANGCAM) dan tingkat kabupaten (MUSRENBANGKAB) untuk merencanakan pengembangan kakao berkelanjutan bersama dengan petani, pemuda dan perempuan.

Menyambut dorogan tersebut, Kepala Lembaga dan Penyuluhan Petani, Hari Budi Harto SP. MMA menyetujui pembentukan Unit Bisnis Kakao melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) untuk memfasilitasi dan melaksanakan pengembangan kakao berkelanjutan.

Selain itu, dengan keberhasilannya dalam membuat kebun percontohan Kecamatan Nglegok saat ini telah menjadi Pusat Pendidikan Budidaya Kakao, hal ini terbukti dengan adanya kunjungan Mahasiswi dari Inggris, Universitas Indonesai dan lembaga pendidikan lainnya untuk memperdalam tata cara budidaya kakao yang baik dengan standar GAP.

Hal ini tentunya membuka lapangan kerja tersendiri di sektor pariwisata dan tour guide serta lainnya termasuk home stay dan aneka kuliner daerah.

PENGEMBANGAN PROGRAM BUDIDAYA KAKAO BERKELANJUTAN

Hasil Monitoring dan Evaluasi terhadap kegiatan SCDP

SCDP mampu meningkatkan peran aktif dan konstruktif antara para petani, pemuda dan perempuan, Kelompok Tani, GAPOKTAN dengan Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, GPEI Jawa Timur dan Puslit KOKA Indonesia.

Aspek sosial & budaya :

  • Adanya ketertarikan kelompok pemuda dalam sektor pertanian terutama dalam budidaya kakao.
  • Tercapai peningkatan peran petani perempuan dalam pengelolaan budidaya tanaman kakao, utamanya dalam proses pasca panen.

Aspek Produksi :

  • Tercipta produksi buah dan biji kakao dengan produksi tinggi, panen awal rata-rata mencapai 1,5 ton biji kering per hektar per tahun, diharapkan pada tahun ke 4 dan seterusnya bisa mencapai 2,5 – 3 ton biji kering per hektar per tahun.
  • Tercipta kualitas biji kakao kering fermentasi sesuai standar SNI, biji besar dan berat.
  • Tercipta rancangan stok bahan baku yang cukup bagi industri pengolahan kakao baik dalam negeri maupun ekspor.
  • Tercipta produk lain selain biji kakao, seperti pupuk kompos kulit buah kakao, pakan ternak kambing dari daun lamtoro (pohon penaung) dan industri pupuk organik (kotoran kambing).

Aspek Ekonomi :

  • Tercipta lapangan pekerjaan dalam budidaya kakao, khususnya bagi kelompok pemuda dan perempuan, dalam hal :
  • penyiapan lahan,
  • penyiapan bibit dan entres,
  • penyiapan pupuk organik,
  • penyiapan tenaga ahli bidang budidaya, perawatan dan penyehatan kebun,
  • penyediaan alat dan obat-obatan perkebunan.
  • Tercipta harga biji kakao kering ose yang cukup bagus bagi petani (kisaran Rp. 30.000,- sampai dengan Rp. 35.000,- kering fermentasi).
  • Tercipta industri pengolahan kakao daerah, seperti Taman Teknologi Pangan Pacitan dengan industri cokelatnya, Rumah Cokelat Trenggalek dan Kedai Nuri Bondowoso.
  • Tercipta industri wisata edukasi yang berbasis budidaya kakao yang berkelanjutan di Blitar.
  • Tercipta lapangan pekerjaan di sektor industri pengolah makanan dan minumam dengan bahan dasar cokelat.

Aspek Berkelanjutan :

Tercipta Satuan Tugas dan Fasilitator Kakao di 5 wilayah Kabupaten di Jawa Timur yang siap melatih, membina dan mendampingi serta mengawasi para petani, pemuda dan perempuan daerah yang ingin budidaya kakao, baik baru maupun rehabilitasi kebun kakao.

SCDP mendorong terbentuknya  Gabungan Kelompok Tani – GAPOKTAN yang mampu melaksanakan percepatan budidaya kakao dengan cara cangkok.

Tercipta Unit Usaha Kakao BUMDES Kemloko yang mampu menyediakan bibit, entres, pupuk organik, dan peralatan pertanian lain serta memberikan layanan kepada para petani kakao yang berupa KLINIK KAKAO.
Unit Usaha Kakao BUMDES Kemloko juga bisa memberikan dampingan kepada para petani dalam menjual biji kakao dan mengelola pemasaran biji kakao dengan posisi tawar yang cukup tinggi.
Dari 4 aspek diatas dapat diketahui bahwa program budidaya kakao berkelanjutan dapat dilaksanakan dengan baik dan menunjukkan hasil yang cukup baik, khususnya dalam peningkatan produktifitas dan kualitas biji kakao, peningkatan kapasitas organisasi baik dari sisi stakeholder maupun kelomok tani, peningkatan ekonomi petani dan peluang pekerjaan bagi para pemuda dan perempuan.
Kesimpulan :

Budidaya kakao berkelanjutan dengan standar GAP – SCDP

MERUPAKAN ALTERNATIF BAGI DAERAH KHUSUSNYA JAWA TIMUR DALAM MENINGKATKAN EKONOMI DAERAH SERTA PENCIPTAAN LAPANGAN PEKERJAAN

Lokasi Kantor

Graha Asri Blok K-3, JL. Ngagel, No. 179-183, Surabaya, Jawa Timur, 60246, Keputran, Tegalsari, Surabaya, East Java 60265

Email

gpei_sby@yahoo.com

Telepon

(031) 5048861

Membership

© 2023 GPEI Jawa Timur. All Rights Reserved.

× CS Jatim Export