Surabaya – Eskalasi konflik antara United States dan Israel terhadap Iran yang berpotensi memicu penutupan Strait of Hormuz menjadi perhatian serius bagi pelaku perdagangan internasional. Jalur laut ini merupakan salah satu rute paling vital bagi distribusi energi dan perdagangan global.
Bagi Indonesia, khususnya Jawa Timur yang merupakan salah satu basis eksportir nasional, potensi gangguan di Selat Hormuz dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap aktivitas ekspor maupun sektor pendukungnya seperti asuransi perdagangan.
Kepala Regional II Surabaya, Achmad Nurkozin menyebutkan bahwa terganggunya potensi Selat Hormuz akan menggaggu aktivitas ekspor, dan jika menyamngkut ekspor tentunya asuransi ekspor tentunya akan terganggu dan hal diperkirakan akan berdampak cukup luas dalam perdagangan internaqsional.
Gangguan Jalur Logistik Ekspor
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran utama menuju kawasan Timur Tengah. Jika jalur ini terganggu atau ditutup, kapal-kapal yang mengangkut komoditas ekspor harus mencari rute alternatif atau menunda pelayaran.
Bagi eksportir Jawa Timur, kondisi ini berpotensi menimbulkan : keterlambatan pengiriman barang, pembatalan jadwal pelayaran serta penyesuaian rute distribusi.
Padahal, negara-negara Timur Tengah selama ini menjadi pasar penting bagi sejumlah komoditas ekspor Jawa Timur seperti produk makanan olahan, hasil perikanan, furniture, produk kayu, hingga produk manufaktur.
Kenaikan Biaya Logistik dan Freight
“Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut juga berdampak langsung pada biaya pengiriman internasional. Perusahaan pelayaran biasanya akan menaikkan tarif freight untuk menutup risiko operasional di wilayah konflik, kata Kozin.
Selain itu, pelayaran menuju kawasan Timur Tengah dapat dikenakan war risk surcharge atau biaya tambahan risiko perang. Kondisi ini dapat menyebabkan kenaikan biaya logistik antara 20 hingga 30 persen, bahkan lebih, tergantung jalur pelayaran yang digunakan.
Bagi eksportir Jawa Timur, peningkatan biaya ini dapat menekan margin keuntungan dan menurunkan daya saing produk di pasar internasional.
Dampak terhadap Industri Asuransi Ekspor
Situasi geopolitik yang tidak stabil juga mempengaruhi sektor asuransi perdagangan, termasuk perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Asuransi Kredit Indonesia.
Dalam kondisi konflik, perusahaan asuransi biasanya akan melakukan beberapa langkah mitigasi risiko, antara lain : menaikkan premi asuransi kredit ekspor, membatasi limit penjaminan untuk negara berisiko tinggi serta memperketat penilaian terhadap importir di wilayah konflik.
Selain risiko pengiriman, perusahaan asuransi juga harus mengantisipasi meningkatnya potensi gagal bayar dari importir yang terdampak situasi ekonomi di kawasan tersebut.
Dampak Tidak Langsung : Lonjakan Harga Energi
Penutupan Selat Hormuz juga berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia karena jalur tersebut dilalui oleh sebagian besar distribusi minyak global.
Jika harga energi meningkat tajam, biaya produksi industri juga akan naik, termasuk bagi sektor manufaktur dan pengolahan di Jawa Timur. Hal ini dapat berdampak pada peningkatan harga produk ekspor dan berpotensi mengurangi daya saing di pasar global.
Perlu Antisipasi dan Diversifikasi Pasar
Melihat potensi risiko tersebut, para pelaku usaha ekspor di Jawa Timur perlu melakukan langkah antisipasi, antara lain dengan memperkuat manajemen risiko logistik, memperhatikan perlindungan asuransi ekspor, serta melakukan diversifikasi pasar ke kawasan lain seperti Asia Selatan, Afrika, maupun Asia Tenggara.
Meskipun konflik geopolitik dapat menimbulkan tekanan terhadap perdagangan global, namun dengan strategi adaptif dan koordinasi yang baik antara pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga keuangan, sektor ekspor Jawa Timur diharapkan tetap mampu menjaga stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhannya di tengah dinamika ekonomi global.
“Pada kesempatan ini diperlukan pemahaman yang sama oleh para stakeholder, khususnya Pemerintah yang harus memunculkan stimulus demi pemulihan ekspor,” tutup Kozin.(*)
GPEI Jatim – Surabaya. Ketegangan geopolitik global, perlambatan ekonomi dunia, serta perubahan kebijakan perdagangan internasional menjadi tantangan nyata bagi kinerja ekspor nasional. Kondisi tersebut menuntut respons strategis dan kolaboratif agar ekspor tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
Hal itu mengemuka dalam forum Business Gathering bertema “Peluang Dan Tantangan Ekspor Jawa Timur Mrnghadapi Dinamika Geopolitik Global” yang digelar di Surabaya. Kegiatan ini dihadiri jajaran Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur, , Bea Cukai, Balai Karantina, serta PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan diikuti pelaku usaha ekspor lintas sektor.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, nilai ekspor provinsi ini sepanjang tahun 2025 mencapai USD 30,40 miliar, meningkat 16,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) dari USD 26,07 miliar. Peningkatan ini didorong utamanya oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 18,17 persen, sedangkan ekspor migas mengalami penurunan.
Jawa Timur dikenal sebagai salah satu provinsi dengan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan merupakan pusat kegiatan industri manufaktur serta perdagangan internasional.
Sejumlah narasumber dalam pertemuan yang dihadiri kalangan eksportir di Jawa Timur tersebut adalah Navy Zawariq (Kepala seksi penyuluhan dan layanan informasi KPPBC TMP Tanjung Perak) dan Sokhib, S.Pi, M.P. (Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jawa Timur), serta Putra Perdana Akbar (Department Head Treasury BRI Region 12 Surabaya).
Ketua GPEI Jawa Timur Isdarmawan Asrikan menegaskan bahwa ekspor memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat neraca perdagangan di tengah tekanan global. Oleh karena itu, pelaku usaha didorong untuk memperkuat efisiensi produksi, diversifikasi pasar ekspor, dan peningkatan nilai tambah produk agar tetap kompetitif.
Bea Cukai menekankan pentingnya kelancaran arus barang ekspor sebagai bagian dari upaya menjaga daya saing ekonomi. Melalui berbagai fasilitas kepabeanan dan penyederhanaan prosedur, Bea Cukai berkomitmen mendukung pelaku usaha agar mampu menekan biaya logistik dan meningkatkan kepastian usaha.
Sementara itu, Balai Karantina menyoroti peran strategis jaminan mutu dan keamanan produk ekspor dalam menembus pasar global. Pemenuhan standar kesehatan, keamanan pangan, dan persyaratan negara tujuan dinilai menjadi faktor krusial agar produk Indonesia, khususnya dari Jawa Timur, dapat diterima dan berkelanjutan di pasar internasional.
Dari sektor perbankan, BRI menyampaikan komitmennya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis ekspor melalui pembiayaan, layanan trade finance, serta pendampingan UMKM ekspor. Dukungan perbankan diharapkan mampu memperkuat struktur ekonomi daerah dan meningkatkan kontribusi ekspor terhadap PDRB Jawa Timur.
Forum ini menegaskan bahwa sinergi lintas lembaga menjadi kunci dalam menghadapi tekanan geopolitik global. Dengan kolaborasi kebijakan, pembiayaan, fasilitasi perdagangan, dan peningkatan kualitas produk, ekspor Jawa Timur diharapkan tetap tangguh dan berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional. (*)
Surabaya – Di tengah keberkahan bulan suci Ramadhan, suasana hangat dan penuh kebersamaan menyelimuti ruang pertemuan Hotel Elmi Surabaya. Sore itu, keluarga besar Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Jawa Timur menggelar buka puasa bersama yang dirangkai dengan santunan bagi para santri TPA/TPQ As-Salam Surabaya.
Sejak pukul 16.00 WIB, ruangan telah dipenuhi oleh para pengurus, anggota, serta mitra GPEI Jawa Timur. Namun yang paling mencuri perhatian adalah wajah-wajah ceria para santri kecil yang datang dengan penuh kegembiraan. Tawa mereka ringan seperti angin senja Ramadhan, membawa suasana menjadi lebih hidup dan penuh kehangatan.
Acara semakin semarak ketika para santri TPA/TPQ As-Salam menampilkan pertunjukan seni yang memikat. Dengan gerakan yang lincah dan penuh percaya diri, anak-anak itu menari dengan iringan musik rebana yang bertalu lembut. Tabuhan rebana berpadu dengan lantunan shalawat, menghadirkan nuansa religius yang menggetarkan hati. Di tengah tepuk tangan para tamu yang hadir, penampilan mereka menjadi simbol keindahan generasi muda yang tumbuh dalam cahaya ilmu dan iman.
Tak hanya menghadirkan kebersamaan spiritual, kegiatan ini juga diisi dengan kepedulian terhadap kesehatan. Tim medis dari Parahita Diagnostic Center turut hadir memberikan layanan pemeriksaan kesehatan bagi para peserta yang hadir. Beberapa tamu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan pengecekan kesehatan dasar, sebagai bentuk ikhtiar menjaga amanah tubuh yang diberikan Allah.
Selain pemeriksaan kesehatan, tim dari Parahita juga menggelar talk show kesehatan yang memberikan edukasi seputar pentingnya menjaga kondisi tubuh selama menjalankan ibadah puasa. Dalam suasana santai namun penuh manfaat, para peserta mendapatkan pengetahuan tentang pola hidup sehat, keseimbangan nutrisi saat sahur dan berbuka, serta pentingnya menjaga daya tahan tubuh di bulan Ramadhan.
Di sela acara, Ketua Pengurus GPEI Jawa Timur, Isdarmawan Asrikan, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan wujud kepedulian dan rasa syukur di bulan penuh rahmat.
“Ramadhan adalah waktu terbaik untuk mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan dengan para santri serta memperkuat kebersamaan di antara keluarga besar GPEI Jawa Timur,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah Ramadhan yang menyejukkan hati, kemudian penyerahan santunan kepada para santri TPA/TPQ As-Salam. Anak-anak itu menerima santunan dengan wajah berbinar, seolah senja Ramadhan menaruh cahaya harapan di mata mereka.
Menjelang waktu maghrib, doa bersama dipanjatkan dengan khusyuk. Ketika adzan berkumandang, seluruh hadirin berbuka puasa dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan. Gelas-gelas terangkat, senyum-senyum saling berbalas, dan kebersamaan terasa begitu hangat.
Malam Ramadhan pun perlahan turun di Kota Surabaya. Namun dari ruang pertemuan itu, tersisa satu pesan yang kuat: bahwa keberkahan Ramadhan tidak hanya hadir dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam tangan yang memberi, kepedulian terhadap kesehatan, hati yang berbagi, dan kebersamaan yang menguatkan.
Melalui kegiatan ini, GPEI Jawa Timur berharap semangat berbagi, kepedulian sosial, serta kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan dapat terus tumbuh. Ramadhan pun menjadi momentum mempererat hubungan antara dunia usaha dan masyarakat—serta menanamkan harapan bagi generasi muda yang kelak akan meneruskan perjalanan bangsa. (*)
Surabaya – Dalam balutan suasana yang hangat dan penuh keakraban pasca-hari kemenangan Idul Fitri, keluarga besar kepelabuhanan berkumpul dalam satu harmoni di jantung kota Surabaya. Pada Rabu malam, 8 Maret 2026, di Hotel Morazen Surabaya, Forum Komunikasi Asosiasi Kepelabuhanan Pelabuhan Tanjung Perak menggelar Halal bihalal—sebuah pertemuan yang tak sekadar seremonial, melainkan jembatan hati yang menyatukan langkah.
Sejak pukul 18.00 WIB, para pelaku usaha, operator terminal, regulator, hingga pemangku kepentingan hadir membawa semangat yang sama: mempererat silaturahmi dan meneguhkan sinergi. Di tengah cahaya lampu yang temaram dan percakapan yang mengalir hangat, Ketua Panitia, Agung Kresno Sarwono, menyampaikan harapannya agar kebersamaan ini menjadi fondasi kokoh bagi masa depan sektor kepelabuhanan.
Lebih dari sekadar tempat bersandarnya kapal, Pelabuhan Tanjung Perak digambarkan sebagai denyut nadi perekonomian—urat vital yang menghidupkan arus distribusi, khususnya bagi kawasan Indonesia timur. Dalam setiap kontainer yang bergerak, dalam setiap kapal yang berlabuh, tersimpan harapan akan kelancaran, efisiensi, dan daya saing bangsa.
Data dari Pelindo menjadi saksi geliat positif tersebut. Lebih dari 3,5 juta TEUs peti kemas mengalir setiap tahun, ditopang oleh kinerja gemilang Terminal Petikemas Surabaya dan Terminal Teluk Lamong—dua simpul modern yang terus berbenah melalui digitalisasi dan inovasi ramah lingkungan.
Tak hanya itu, catatan Badan Pusat Statistik memperlihatkan bahwa sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Arus barang yang kian meningkat mencerminkan denyut industri, perdagangan antarpulau, hingga ekspor-impor yang semakin dinamis.
Dalam suasana penuh kebersamaan itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Putranto, turut menyampaikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa di tengah dinamika global saat ini, para pelaku usaha harus terus melangkah dan tidak boleh berhenti beradaptasi. Tantangan geopolitik yang bergejolak, dinamika organisasi, hingga perubahan dalam dunia usaha telah membawa konsekuensi nyata berupa meningkatnya berbagai komponen biaya. Namun demikian, menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh menjadi penghambat, melainkan harus dijawab dengan kolaborasi yang lebih erat, efisiensi yang berkelanjutan, serta inovasi dalam setiap lini usaha.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kekuatan organisasi sebagai wadah bersama, agar dunia usaha tetap memiliki daya tahan dan daya saing. Dengan semangat kebersamaan yang terbangun dalam forum seperti ini, ia optimistis para pelaku usaha di sektor kepelabuhanan mampu menghadapi tekanan biaya sekaligus memanfaatkan peluang yang ada.
Namun di balik optimisme itu, forum ini juga jujur menatap tantangan global—geopolitik yang tak menentu, fluktuasi harga energi, hingga tekanan biaya logistik. Di sinilah kolaborasi menjadi kata kunci. Sinergi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan, agar sektor kepelabuhanan tetap tangguh dan kompetitif di tengah arus perubahan dunia.
Kehangatan malam itu semakin lengkap dengan tausiah dari Ustadz Akhmad Arqom, yang mengajak hadirin menanamkan nilai keikhlasan, syukur dan bahagia, menjaga integritas, serta merawat kebersamaan dalam setiap langkah usaha dan pelayanan.
Pada akhirnya, doa bersama menjadi penutup yang syahdu—sebuah harapan yang melangit, agar setiap aktivitas di Pelabuhan Tanjung Perak senantiasa diliputi kelancaran, keselamatan, dan keberkahan. Dari pertemuan ini, lahir kembali keyakinan: bahwa dengan kebersamaan yang tulus, pelabuhan ini akan terus berdiri sebagai gerbang logistik yang andal, menghubungkan harapan dari satu pulau ke pulau lain, dari negeri ini ke panggung dunia. (*)
Pemerintah Siapkan Paket Stimulus Ekonomi Baru, Diumumkan Oktober 2025
Pemerintah bersiap meluncurkan paket stimulus ekonomi terbaru untuk menggenjot daya beli masyarakat menjelang akhir tahun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan rencana ini telah rampung dibahas dan akan segera diumumkan. “Kami sudah bahas stimulusnya, tinggal tunggu waktu pengumuman resminya,” ujar Airlangga pada 10 Oktober 2025.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, paket stimulus ini sedang dalam tahap penyempurnaan teknis dan dijadwalkan diumumkan dalam waktu dekat, kemungkinan paling lambat 17 Oktober 2025. “Minggu ini tim teknis masih mematangkan. Mungkin minggu depan, entah Jumat, 18 Oktober, atau lebih cepat. Pak Menko Perekonomian yang akan umumkan,” kata Purbaya pada 8 Oktober 2025.
Paket stimulus ini merupakan kelanjutan dari dua paket sebelumnya yang diluncurkan pada Juni dan September 2025. Menurut Purbaya, stimulus baru ini akan memperkuat dan memperluas cakupan program sebelumnya, yang terdiri dari 8 program akselerasi, 4 program jangka panjang, dan 5 program penciptaan lapangan kerja. “Ada penguatan dari program sebelumnya, ditambah beberapa poin baru. Detailnya nanti diumumkan Pak Menko,” jelasnya.
Anggaran dan Target
Program stimulus 8+4+5 yang telah berjalan menyerap anggaran Rp16,23 triliun dan ditargetkan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2% pada 2025. Paket stimulus baru ini dirancang untuk memperkuat daya beli masyarakat yang melemah akibat perlambatan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir.
Rincian Program Stimulus Ekonomi 8+4+5
Berikut adalah daftar program dalam paket stimulus:
8 Program Akselerasi Cepat:
4 Program Jangka Panjang hingga 2026:
5 Program Penciptaan Lapangan Kerja:
Dengan paket stimulus ini, pemerintah berharap dapat mempercepat pemulihan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengumuman resmi yang ditunggu-tunggu ini diharapkan memberikan kejelasan bagi pelaku usaha dan masyarakat penerima manfaat.
GPEI Jatim – Surabaya, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia mencatat sejarah baru dalam sektor pangan pada tahun 2025. Hal tersebut disampaikan Presiden dalam pidato perdananya pada Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, pada Selasa, 23 September 2025.
Menurut Presiden, produksi beras dan cadangan pangan nasional berada pada titik tertinggi yang menjadikan Indonesia tidak hanya swasembada, tetapi juga mulai mengekspor beras. “Kami kini swasembada beras, dan mulai mengekspor beras ke negara lain yang membutuhkan, termasuk menyediakan beras untuk Palestina,” ucapnya.
Presiden menekankan bahwa ketahanan pangan harus dibangun melalui inovasi dan keberlanjutan. Oleh karena itu, Indonesia kini tengah mengembangkan rantai pasok yang tangguh, memperkuat produktivitas petani, serta berinvestasi dalam pertanian cerdas iklim.
“Untuk memastikan ketahanan pangan bagi anak-anak kami dan anak-anak dunia. Kami yakin dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia,” lanjut Presiden.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara juga menyampaikan dampak perubahan iklim yang nyata dirasakan Indonesia sebagai negara kepulauan. Presiden Prabowo menyebutkan bahwa kenaikan permukaan laut menjadi ancaman serius yang sudah terjadi saat ini.
“Permukaan laut di pantai utara ibu kota kami meningkat lima sentimeter setiap tahun. Bisakah Anda bayangkan dalam 10 tahun? Bisakah Anda bayangkan dalam 20 tahun? Untuk itu, kami terpaksa membangun tanggul laut raksasa sepanjang 480 kilometer. Mungkin butuh 20 tahun, tapi kami tidak punya pilihan. Kami harus memulai sekarang,” katanya.
Lebih lanjut, Presiden menegaskan bahwa Indonesia memilih menghadapi perubahan iklim melalui aksi nyata, bukan sekadar slogan. Indonesia berkomitmen untuk memenuhi kewajiban Perjanjian Paris 2015 dan menargetkan pencapaian emisi nol bersih pada tahun 2060 atau lebih cepat.
“Kami menargetkan reforestasi lebih dari 12 juta hektare hutan terdegradasi, mengurangi kerusakan hutan, memberdayakan masyarakat lokal dengan pekerjaan hijau berkualitas untuk masa depan. Indonesia secara tegas beralih dari pembangunan berbasis bahan bakar fosil menuju pembangunan berbasis energi terbarukan. Mulai tahun depan, sebagian besar tambahan kapasitas pembangkit listrik kami akan berasal dari energi terbarukan,” ujarnya.
“Tujuan kami jelas. Mengangkat seluruh warga negara keluar dari kemiskinan dan menjadikan Indonesia pusat solusi ketahanan pangan, energi, dan air,” tandasnya.(*)
GPEI Jatim, Surabaya – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut penurunan ekonomi dunia, khususnya di sektor manufaktur merupakan imbas dari kampanye energi hijau yang digembar gemborkan selama ini.
Trump menuding kebijakan transisi energi yang digaungkan oleh Eropa menjadi biang keladi pelemahan ekonomi dunia.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut Jerman sebagai contoh negara yang sempat beralih ke energi hijau namun akhirnya kembali mengandalkan batu bara dan nuklir.
“Mereka menuju energi hijau dan hampir bangkrut. Pemerintahan baru masuk dan mereka kembali ke batu bara dan nuklir, yang sekarang aman dan bisa dilakukan dengan benar. Semua hijau berarti semua bangkrut,” kata Trump dalam Sidang Umum PBB, Selasa (23/9/2025).
Menurut Trump, konsep jejak karbon yang menjadi dasar kebijakan hijau global merupakan “tipuan” yang diciptakan oleh pihak tertentu. Ia merugikan Eropa telah mengurangi jejak karbon sebesar 37 persen dengan biaya besar hingga besarnya penutupan pabrik dan tergerusnya lapangan pekerjaan.
“Ini menunjukkan kebijakan hijau brutal tidak membantu lingkungan, justru memindahkan manufaktur dan industri dari negara maju ke negara pencemar yang melanggar aturan,” ujarnya.
Trump juga menyoroti ketimpangan harga listrik antara negara maju dan negara berkembang.
Menurut dia, harga listrik di Eropa kini empat hingga lima kali lebih mahal daripada di China dan dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada di Amerika Serikat. Kondisi ini membuat banyak rumah tangga Eropa kesulitan mengoperasikan pendingin ruangan.(*)
GPEI Jatim – Surabaya, Federasi Kopi Eropa baru saja menerbitkan “Aturan Kategori Jejak Lingkungan Produk Bayangan” (Shadow PEFCR), sebuah dokumen teknis yang dirancang untuk membantu perusahaan kopi bersiap menghadapi undang-undang anti-greenwashing yang sedang berkembang.
ECF, yang mewakili beberapa perusahaan pemanggangan dan perdagangan kopi terbesar di Eropa, mengatakan dokumen tersebut menyediakan “pendekatan umum dan terpadu” untuk menghitung jejak lingkungan dari produk kopi.
Deskripsi ECF tentang dokumen ini sebagai dokumen “bayangan” menandakan bahwa dokumen ini mengikuti persyaratan Jejak Lingkungan Produk (PEF) Komisi Eropa tetapi belum melalui proses UE untuk menjadi aturan formal.
Dengan demikian, tidak ada persyaratan yang mengikat secara hukum terkait transparansi atau verifikasi independen.
Tampaknya ini merupakan respons langsung terhadap perkembangan regulasi anti-greenwashing Uni Eropa yang baru, termasuk Arahan Pemberdayaan Konsumen untuk Transisi Hijau , yang telah mulai berlaku, dan Arahan Klaim Hijau , yang saat ini sedang direvisi tetapi diharapkan akan menjadi undang-undang.
Kedua arahan tersebut dirancang untuk melindungi konsumen dari klaim yang tidak jelas atau tidak berdasar tentang dampak lingkungan dari produk yang mereka beli.
“Di seluruh sektor kopi, perusahaan mengandalkan beragam alat untuk mengukur jejak lingkungan produk mereka,” ujar ECF dalam pengumuman publikasi tersebut. “Meskipun beberapa pendekatan ini sudah mapan, kurangnya pedoman umum menyulitkan perbandingan hasil dan mengurangi transparansi. Dokumen panduan ini berupaya menyediakan pendekatan umum dan terpadu tersebut.”
Secara sederhana, dokumen ini memberi tahu perusahaan kopi keputusan penilaian siklus hidup (LCA) spesifik kopi mana yang harus diambil agar dua merek yang mengukur produk “sama” dapat menghasilkan hasil yang sebanding. (*)
Akses Istimewa Bagi Bisnis Eropa Besar & Kecil
GPEI Jatim – Surabaya, Perjanjian ini akan memberikan perusahaan Uni Eropa akses istimewa ke pasar Indonesia dengan:
Menghapus bea masuk pada 98,5% lini tarif dan menyederhanakan prosedur ekspor barang UE ke Indonesia, termasuk ekspor utama seperti mobil dan produk pertanian dan pangan.
Mengizinkan perusahaan UE menyediakan layanan dengan kepemilikan penuh di sektor utama seperti komputer dan telekomunikasi.
Membuka peluang baru bagi investasi UE ke Indonesia, terutama di sektor strategis seperti kendaraan listrik, elektronik, dan farmasi, sehingga mendorong integrasi rantai pasokan dan nilai kedua belah pihak.
Melindungi kekayaan intelektual seperti merek dagang, yang memungkinkan perusahaan Uni Eropa untuk menjaga identitas dan reputasi merek mereka, memastikan adanya pemulihan terhadap pelanggar dan menyediakan alat yang efektif untuk memerangi produk palsu, membantu usaha kecil dengan ketentuan khusus dan memberi manfaat bagi konsumen Indonesia.
Kemenangan besar bagi petani Eropa: meningkatkan ekspor Uni Eropa dan melindungi sensitivitas Uni Eropa
Kesepakatan ini akan memberi petani Uni Eropa peluang yang jauh lebih baik untuk menjual hasil bumi mereka di Indonesia berkat penghapusan tarif pada ekspor utama Uni Eropa seperti produk susu, daging, buah dan sayur, serta berbagai macam makanan olahan.
Undang-undang ini juga akan melindungi 221 Indikasi Geografis (IG) pertanian dan pangan Uni Eropa dan 72 Indonesia. Selain itu, undang-undang ini juga akan melindungi produk pertanian dan pangan sensitif seperti beras, gula, dan pisang segar yang tarifnya masih berlaku, serta membatasi akses ke pasar Uni Eropa untuk produk sensitif lainnya melalui kuota yang dikalibrasi secara cermat.
Kecuali impor tanaman pangan Indonesia yang tidak tumbuh di UE, UE sudah mengekspor lebih banyak produk pertanian dan pangan ke Indonesia daripada yang diimpornya, dengan ekspor sebesar €1 miliar per tahun.(*)
Exchange Rate USD: Fri, 17 Apr.
Graha Asri Blok K-3
JL. Ngagel, No. 179-183, Surabaya,
Jawa Timur, 60246
gpei_sby@yahoo.co.id
gpeijatim1961@gmail.com
© 2023 GPEI Jawa Timur. All Rights Reserved.