Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti pemanfaatan Instalasi Karantina Terpadu Jawa Timur oleh Kepala Badan Karantina Indonesia yang dilanjutkan dengan penekanan tombol sirine.
Instalasi Karantina Terpadu ini menjadi bagian dari pengembangan kawasan terintegrasi JATIM HUB — Nusantara Integrated Trade & Quarantine Gateway, yang mengintegrasikan layanan karantina, logistik, dan perdagangan dalam satu ekosistem terpadu.
Gubernur Khofifah menegaskan keberadaan Instalasi Karantina Terpadu menjadi langkah strategis dalam memperkuat efisiensi perdagangan, logistik ekspor-impor, serta pengawasan lalu lintas komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan di Jawa Timur.
“Alhamdulillah dengan peresmian Instalasi Karantina Terpadu JATIM HUB ini mulai beroperasi, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Badan Karantina Indonesia karena ini menjadi yang pertama di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Khofifah, Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai salah satu lokomotif ekonomi nasional sekaligus lumbung pangan Indonesia. Karena itu, setiap produk yang keluar maupun masuk harus terjamin keamanan, kualitas, serta legalitasnya.
Ia menjelaskan, peresmian fasilitas ini merupakan implementasi nyata visi Integrated Agro-Logistics and Quarantine Gateway yang mengintegrasikan sistem logistik pangan dan prosedur karantina dalam satu sistem yang efisien, cepat, dan transparan.
“Dengan adanya gerbang terintegrasi ini, proses logistik dan karantina tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dalam satu sistem yang modern dan efektif,” katanya.
Khofifah menambahkan, penguatan fungsi karantina juga selaras dengan strategi besar Gerbang Baru Nusantara yang menempatkan Jawa Timur sebagai pusat konektivitas, logistik, dan ekonomi penghubung Indonesia Barat dan Timur.
Posisi strategis tersebut didukung oleh infrastruktur yang terus berkembang, antara lain tujuh bandara, 37 pelabuhan, dan 12 ruas jalan tol yang menopang mobilitas barang dan jasa di Jawa Timur. Selain itu, Jawa Timur juga memiliki dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), 13 kawasan industri, serta satu kawasan industri halal.
Bahkan, Pelabuhan Tanjung Perak saat ini melayani 24 dari 41 rute Tol Laut nasional, sehingga hampir 80 persen pasokan logistik untuk wilayah Indonesia Timur berasal dari Jawa Timur.
“Hal ini semakin menegaskan posisi Jawa Timur sebagai center of gravity logistik dan perdagangan nasional sekaligus Gerbang Baru Nusantara,” tegasnya.
Tak hanya itu, Khofifah juga menegaskan kawasan JATIM HUB diharapkan mampu menjadi pintu masuk produk-produk daerah menuju pasar global, termasuk produk koperasi, baik itu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) maupun koperasi yang lain, juga usaha kecil menengah (UKM), dan industri kecil menengah (IKM).
“Kita ingin produk-produk daerah, termasuk produk Koperasi Merah Putih, UKM, dan IKM, tidak hanya beredar di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di pasar global,” ujarnya.
“Karena di sini juga ada pembinaannya bagaimana produk dari koperasi, UKM dan IKM yang sudah masuk skala ekspor bisa masuk standar ke negara tujuan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan salah satu tantangan terbesar yang selama ini dihadapi pelaku usaha adalah distribusi barang yang lambat dan tingginya biaya logistik.
Karena itu, Pemprov Jawa Timur mendukung integrasi layanan karantina dan logistik agar proses distribusi barang menjadi lebih cepat, efisien, dan memiliki kepastian layanan.
“Di tengah persaingan perdagangan global, kecepatan layanan menjadi bagian dari daya saing,” katanya.
Fasilitas karantina terpadu tersebut mengintegrasikan proses pemeriksaan, pengasingan, tindakan karantina, hingga pengujian laboratorium dalam satu kawasan. Sistem layanan juga diperkuat melalui joint inspection antara karantina dan Bea Cukai guna mempercepat proses dan memperlancar arus barang.
Kawasan JATIM HUB juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti pergudangan, cold storage, tempat penimbunan sementara, kawasan distribusi, laboratorium hingga pasar terpadu.
Pengembangan kawasan dilakukan melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Badan Karantina Indonesia. Dalam pelaksanaannya, Pemprov Jatim menugaskan PT Jatim Grha Utama (JGU) sebagai BUMD daerah untuk mendukung pengembangan kawasan dan penguatan ekosistem logistik terintegrasi.
Dikembangkan di Jemundo, Sidoarjo, kawasan JATIM HUB menempati lahan seluas 50 hektare di salah satu koridor utama perdagangan Jawa Timur.
Operasional karantina terpadu ini dipastikan akan membawa banyak manfaat bagi Jatim termasuk di sektor pendapatan daerah.
Sebab sebagaimana diketahui, volume pergerakan komoditas di Jawa Timur terus meningkat dengan rata-rata mencapai lebih dari 350 ribu frekuensi media pembawa hewan, ikan, dan tumbuhan setiap tahun.(*)
Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Perak Agus Cahyono, menyampaikan bahwa sinergi yang terbangun dapat membuka jalan bagi eksportir untuk mengidentifikasi peluang ekspor baru serta mengatasi hambatan yang ada saat ini.
“Baik Bea Cukai maupun GPEI sepakat bahwa kerja sama yang erat antara pemerintah, dalam hal ini Bea Cukai, dan eksportir akan menjadi kunci keberhasilan dalam meraih peningkatan ekspor yang signifikan,” ujar Agus.
Dalam kesempatan ini, Ketua GPEI Jawa Timur, Isdarmawan Asrikan, menyampaikan bahwa upaya peningkatkan fasilitasi perdagangan dan kemudahan ekspor bagi eksportir sangat penting, khususnya dalam mendorong peningkatan ekspor.
“Bahwa tantangan yang dihadapi oleh pelaku usaha dalam mengembangkan ekspor saat ini sangat rumit, belum lagi ditambah dengan kondisi geopolitik yang sangat luar biasa,” papar Isadarmawan.
Terkait, kesulitas dalam pengembangan ekspor, Agus Cahyono memberikan masukan tentang langkah-langkah konkret yang memungkinkan untuk diambil guna meningkatkan daya saing di pasar global.
“Langkah-langkah strategis yang dihasilkan dari audiensi ini diharapkan akan membawa dampak positif dalam akselerasi pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan peran Indonesia dalam kancah perdagangan internasional,” harap Agus.
Selain itu, salah satu upaya untyuk mengatasi berbagai tantangan tersebut adalah dengan peningkatan sinergi dan kolaborasi untuk meningkatkan kinerja ekspor antara Bea Cukai dengan GPEI Jawa Timur, imbuh Agus.
Setuju dengan dengan semangat Bea Cukai, Isdarmawan bahwa penting artinya bagi para pelaku usaha untuk terus didorong dalam mengatasi tantangan di lapangan yang seringkali melibatkan Dinas/Instansi lain seperti Karantina, Pelabuhan maupun perbankan.
Pertemuan ini pada akhirnya mempertegas komitmen kedua belah pihak untuk menjaga pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan ekspor yang berjalan lancar, kompetitif dan mampu menjaga keberlangsungan pasar internasional.
Dalam hal ini, GPEI Jawa Timur mendukung penuh langkah Bea Cukai Tanjung Perak dalam menertibkan ekosistem logistik, termasuk dukungan terhadap tindakan tegas Bea Cukai terhadap importir/eksportir nakal untuk memastikan keadilan berusaha.
Bea Cukai Tanjung Perak dan GPEI Jawa Timur sepakat bahwa kolaborasi ini diharapkan menjadi komitmen bersama dalam mempermudah alur logistik bagi para eksportir dan importir di wilayah pelabuhan Tanjung Perak sepanjang tahun 2026.(*)
Mengusung tagline baru “RESILIENCE” yang efektif sejak 1 April 2026, TPS bertekad meningkatkan ketangguhan dan adaptabilitas perusahaan melalui sinergi yang lebih erat dengan pelanggan serta pemangku kepentingan.
Tagline “RESILIENCE” dimaknai sebagai komitmen berkelanjutan TPS dalam mengintegrasikan tiga pilar utama: manusia, proses, dan teknologi.
Upaya ini diambil sebagai respons atas dinamika industri logistik global guna memastikan layanan tetap andal, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna jasa.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, mengungkapkan, tema tahun ini mencerminkan kesiapan perusahaan menghadapi tantangan masa depan melalui inovasi dan layanan berkualitas.
“Tema RESILIENCE pada usia 27 tahun TPS merefleksikan komitmen perusahaan untuk terus bertumbuh secara berkelanjutan. Bagi kami, ketangguhan tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan bertahan, tetapi juga kesiapan untuk beradaptasi, berinovasi, dan memberikan kebermanfaatan yang konsisten melalui layanan yang handal,” kata Erika, Selasa, 28 April 2026.
Sebagai wujud nyata dari pendekatan customer-centric, TPS menggelar serangkaian kegiatan sepanjang April 2026 untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan mitra strategis.
Di antaranya adalah Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka memperingati Hari Konsumen Nasional 2026, yang menjadi ruang dialog dua arah untuk mengevaluasi dan mengembangkan kualitas layanan terminal.
Selain forum formal, TPS juga menghelat kegiatan kasual seperti fun cooking yang melibatkan pelanggan dan pemangku kepentingan.
“Langkah ini dinilai efektif untuk mempererat hubungan personal dan membangun kepercayaan (bonding) yang melengkapi pendekatan profesional perusahaan,” ungkap Erika.
Erika juga menyebutkan, berbagai masukan dari pelanggan melalui rangkaian kegiatan tersebut akan menjadi landasan penting bagi TPS dalam memperkuat proses internal dan sumber daya manusia.
“Melalui komunikasi yang terbuka dan kolaboratif, kami ingin memastikan bahwa masukan pelanggan menjadi poin penguatan bagi TPS. Hal ini krusial agar kami dapat terus menjaga kepercayaan pelanggan sekaligus berkontribusi positif bagi kelancaran logistik nasional dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” pungkas Erika.
Didirikan pada tahun 1999, TPS kini telah menapak usia 27 tahun dengan terus menjaga konsistensi kinerja operasionalnya.
Melalui semangat Reliable Terminal with Service Excellence, perusahaan berkomitmen untuk terus bertransformasi menjadi katalis positif bagi industri kepelabuhanan tanah air. (*)
Surabaya – Eskalasi konflik antara United States dan Israel terhadap Iran yang berpotensi memicu penutupan Strait of Hormuz menjadi perhatian serius bagi pelaku perdagangan internasional. Jalur laut ini merupakan salah satu rute paling vital bagi distribusi energi dan perdagangan global.
Bagi Indonesia, khususnya Jawa Timur yang merupakan salah satu basis eksportir nasional, potensi gangguan di Selat Hormuz dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap aktivitas ekspor maupun sektor pendukungnya seperti asuransi perdagangan.
Kepala Regional II Surabaya, Achmad Nurkozin menyebutkan bahwa terganggunya potensi Selat Hormuz akan menggaggu aktivitas ekspor, dan jika menyamngkut ekspor tentunya asuransi ekspor tentunya akan terganggu dan hal diperkirakan akan berdampak cukup luas dalam perdagangan internaqsional.
Gangguan Jalur Logistik Ekspor
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran utama menuju kawasan Timur Tengah. Jika jalur ini terganggu atau ditutup, kapal-kapal yang mengangkut komoditas ekspor harus mencari rute alternatif atau menunda pelayaran.
Bagi eksportir Jawa Timur, kondisi ini berpotensi menimbulkan : keterlambatan pengiriman barang, pembatalan jadwal pelayaran serta penyesuaian rute distribusi.
Padahal, negara-negara Timur Tengah selama ini menjadi pasar penting bagi sejumlah komoditas ekspor Jawa Timur seperti produk makanan olahan, hasil perikanan, furniture, produk kayu, hingga produk manufaktur.
Kenaikan Biaya Logistik dan Freight
“Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut juga berdampak langsung pada biaya pengiriman internasional. Perusahaan pelayaran biasanya akan menaikkan tarif freight untuk menutup risiko operasional di wilayah konflik, kata Kozin.
Selain itu, pelayaran menuju kawasan Timur Tengah dapat dikenakan war risk surcharge atau biaya tambahan risiko perang. Kondisi ini dapat menyebabkan kenaikan biaya logistik antara 20 hingga 30 persen, bahkan lebih, tergantung jalur pelayaran yang digunakan.
Bagi eksportir Jawa Timur, peningkatan biaya ini dapat menekan margin keuntungan dan menurunkan daya saing produk di pasar internasional.
Dampak terhadap Industri Asuransi Ekspor
Situasi geopolitik yang tidak stabil juga mempengaruhi sektor asuransi perdagangan, termasuk perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Asuransi Kredit Indonesia.
Dalam kondisi konflik, perusahaan asuransi biasanya akan melakukan beberapa langkah mitigasi risiko, antara lain : menaikkan premi asuransi kredit ekspor, membatasi limit penjaminan untuk negara berisiko tinggi serta memperketat penilaian terhadap importir di wilayah konflik.
Selain risiko pengiriman, perusahaan asuransi juga harus mengantisipasi meningkatnya potensi gagal bayar dari importir yang terdampak situasi ekonomi di kawasan tersebut.
Dampak Tidak Langsung : Lonjakan Harga Energi
Penutupan Selat Hormuz juga berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia karena jalur tersebut dilalui oleh sebagian besar distribusi minyak global.
Jika harga energi meningkat tajam, biaya produksi industri juga akan naik, termasuk bagi sektor manufaktur dan pengolahan di Jawa Timur. Hal ini dapat berdampak pada peningkatan harga produk ekspor dan berpotensi mengurangi daya saing di pasar global.
Perlu Antisipasi dan Diversifikasi Pasar
Melihat potensi risiko tersebut, para pelaku usaha ekspor di Jawa Timur perlu melakukan langkah antisipasi, antara lain dengan memperkuat manajemen risiko logistik, memperhatikan perlindungan asuransi ekspor, serta melakukan diversifikasi pasar ke kawasan lain seperti Asia Selatan, Afrika, maupun Asia Tenggara.
Meskipun konflik geopolitik dapat menimbulkan tekanan terhadap perdagangan global, namun dengan strategi adaptif dan koordinasi yang baik antara pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga keuangan, sektor ekspor Jawa Timur diharapkan tetap mampu menjaga stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhannya di tengah dinamika ekonomi global.
“Pada kesempatan ini diperlukan pemahaman yang sama oleh para stakeholder, khususnya Pemerintah yang harus memunculkan stimulus demi pemulihan ekspor,” tutup Kozin.(*)
GPEI Jatim – Surabaya. Ketegangan geopolitik global, perlambatan ekonomi dunia, serta perubahan kebijakan perdagangan internasional menjadi tantangan nyata bagi kinerja ekspor nasional. Kondisi tersebut menuntut respons strategis dan kolaboratif agar ekspor tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
Hal itu mengemuka dalam forum Business Gathering bertema “Peluang Dan Tantangan Ekspor Jawa Timur Mrnghadapi Dinamika Geopolitik Global” yang digelar di Surabaya. Kegiatan ini dihadiri jajaran Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur, , Bea Cukai, Balai Karantina, serta PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan diikuti pelaku usaha ekspor lintas sektor.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, nilai ekspor provinsi ini sepanjang tahun 2025 mencapai USD 30,40 miliar, meningkat 16,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) dari USD 26,07 miliar. Peningkatan ini didorong utamanya oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 18,17 persen, sedangkan ekspor migas mengalami penurunan.
Jawa Timur dikenal sebagai salah satu provinsi dengan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan merupakan pusat kegiatan industri manufaktur serta perdagangan internasional.
Sejumlah narasumber dalam pertemuan yang dihadiri kalangan eksportir di Jawa Timur tersebut adalah Navy Zawariq (Kepala seksi penyuluhan dan layanan informasi KPPBC TMP Tanjung Perak) dan Sokhib, S.Pi, M.P. (Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jawa Timur), serta Putra Perdana Akbar (Department Head Treasury BRI Region 12 Surabaya).
Ketua GPEI Jawa Timur Isdarmawan Asrikan menegaskan bahwa ekspor memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat neraca perdagangan di tengah tekanan global. Oleh karena itu, pelaku usaha didorong untuk memperkuat efisiensi produksi, diversifikasi pasar ekspor, dan peningkatan nilai tambah produk agar tetap kompetitif.
Bea Cukai menekankan pentingnya kelancaran arus barang ekspor sebagai bagian dari upaya menjaga daya saing ekonomi. Melalui berbagai fasilitas kepabeanan dan penyederhanaan prosedur, Bea Cukai berkomitmen mendukung pelaku usaha agar mampu menekan biaya logistik dan meningkatkan kepastian usaha.
Sementara itu, Balai Karantina menyoroti peran strategis jaminan mutu dan keamanan produk ekspor dalam menembus pasar global. Pemenuhan standar kesehatan, keamanan pangan, dan persyaratan negara tujuan dinilai menjadi faktor krusial agar produk Indonesia, khususnya dari Jawa Timur, dapat diterima dan berkelanjutan di pasar internasional.
Dari sektor perbankan, BRI menyampaikan komitmennya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis ekspor melalui pembiayaan, layanan trade finance, serta pendampingan UMKM ekspor. Dukungan perbankan diharapkan mampu memperkuat struktur ekonomi daerah dan meningkatkan kontribusi ekspor terhadap PDRB Jawa Timur.
Forum ini menegaskan bahwa sinergi lintas lembaga menjadi kunci dalam menghadapi tekanan geopolitik global. Dengan kolaborasi kebijakan, pembiayaan, fasilitasi perdagangan, dan peningkatan kualitas produk, ekspor Jawa Timur diharapkan tetap tangguh dan berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional. (*)
Surabaya – Di tengah keberkahan bulan suci Ramadhan, suasana hangat dan penuh kebersamaan menyelimuti ruang pertemuan Hotel Elmi Surabaya. Sore itu, keluarga besar Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Jawa Timur menggelar buka puasa bersama yang dirangkai dengan santunan bagi para santri TPA/TPQ As-Salam Surabaya.
Sejak pukul 16.00 WIB, ruangan telah dipenuhi oleh para pengurus, anggota, serta mitra GPEI Jawa Timur. Namun yang paling mencuri perhatian adalah wajah-wajah ceria para santri kecil yang datang dengan penuh kegembiraan. Tawa mereka ringan seperti angin senja Ramadhan, membawa suasana menjadi lebih hidup dan penuh kehangatan.
Acara semakin semarak ketika para santri TPA/TPQ As-Salam menampilkan pertunjukan seni yang memikat. Dengan gerakan yang lincah dan penuh percaya diri, anak-anak itu menari dengan iringan musik rebana yang bertalu lembut. Tabuhan rebana berpadu dengan lantunan shalawat, menghadirkan nuansa religius yang menggetarkan hati. Di tengah tepuk tangan para tamu yang hadir, penampilan mereka menjadi simbol keindahan generasi muda yang tumbuh dalam cahaya ilmu dan iman.
Tak hanya menghadirkan kebersamaan spiritual, kegiatan ini juga diisi dengan kepedulian terhadap kesehatan. Tim medis dari Parahita Diagnostic Center turut hadir memberikan layanan pemeriksaan kesehatan bagi para peserta yang hadir. Beberapa tamu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan pengecekan kesehatan dasar, sebagai bentuk ikhtiar menjaga amanah tubuh yang diberikan Allah.
Selain pemeriksaan kesehatan, tim dari Parahita juga menggelar talk show kesehatan yang memberikan edukasi seputar pentingnya menjaga kondisi tubuh selama menjalankan ibadah puasa. Dalam suasana santai namun penuh manfaat, para peserta mendapatkan pengetahuan tentang pola hidup sehat, keseimbangan nutrisi saat sahur dan berbuka, serta pentingnya menjaga daya tahan tubuh di bulan Ramadhan.
Di sela acara, Ketua Pengurus GPEI Jawa Timur, Isdarmawan Asrikan, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan wujud kepedulian dan rasa syukur di bulan penuh rahmat.
“Ramadhan adalah waktu terbaik untuk mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan dengan para santri serta memperkuat kebersamaan di antara keluarga besar GPEI Jawa Timur,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah Ramadhan yang menyejukkan hati, kemudian penyerahan santunan kepada para santri TPA/TPQ As-Salam. Anak-anak itu menerima santunan dengan wajah berbinar, seolah senja Ramadhan menaruh cahaya harapan di mata mereka.
Menjelang waktu maghrib, doa bersama dipanjatkan dengan khusyuk. Ketika adzan berkumandang, seluruh hadirin berbuka puasa dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan. Gelas-gelas terangkat, senyum-senyum saling berbalas, dan kebersamaan terasa begitu hangat.
Malam Ramadhan pun perlahan turun di Kota Surabaya. Namun dari ruang pertemuan itu, tersisa satu pesan yang kuat: bahwa keberkahan Ramadhan tidak hanya hadir dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam tangan yang memberi, kepedulian terhadap kesehatan, hati yang berbagi, dan kebersamaan yang menguatkan.
Melalui kegiatan ini, GPEI Jawa Timur berharap semangat berbagi, kepedulian sosial, serta kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan dapat terus tumbuh. Ramadhan pun menjadi momentum mempererat hubungan antara dunia usaha dan masyarakat—serta menanamkan harapan bagi generasi muda yang kelak akan meneruskan perjalanan bangsa. (*)
Surabaya – Dalam balutan suasana yang hangat dan penuh keakraban pasca-hari kemenangan Idul Fitri, keluarga besar kepelabuhanan berkumpul dalam satu harmoni di jantung kota Surabaya. Pada Rabu malam, 8 Maret 2026, di Hotel Morazen Surabaya, Forum Komunikasi Asosiasi Kepelabuhanan Pelabuhan Tanjung Perak menggelar Halal bihalal—sebuah pertemuan yang tak sekadar seremonial, melainkan jembatan hati yang menyatukan langkah.
Sejak pukul 18.00 WIB, para pelaku usaha, operator terminal, regulator, hingga pemangku kepentingan hadir membawa semangat yang sama: mempererat silaturahmi dan meneguhkan sinergi. Di tengah cahaya lampu yang temaram dan percakapan yang mengalir hangat, Ketua Panitia, Agung Kresno Sarwono, menyampaikan harapannya agar kebersamaan ini menjadi fondasi kokoh bagi masa depan sektor kepelabuhanan.
Lebih dari sekadar tempat bersandarnya kapal, Pelabuhan Tanjung Perak digambarkan sebagai denyut nadi perekonomian—urat vital yang menghidupkan arus distribusi, khususnya bagi kawasan Indonesia timur. Dalam setiap kontainer yang bergerak, dalam setiap kapal yang berlabuh, tersimpan harapan akan kelancaran, efisiensi, dan daya saing bangsa.
Data dari Pelindo menjadi saksi geliat positif tersebut. Lebih dari 3,5 juta TEUs peti kemas mengalir setiap tahun, ditopang oleh kinerja gemilang Terminal Petikemas Surabaya dan Terminal Teluk Lamong—dua simpul modern yang terus berbenah melalui digitalisasi dan inovasi ramah lingkungan.
Tak hanya itu, catatan Badan Pusat Statistik memperlihatkan bahwa sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Arus barang yang kian meningkat mencerminkan denyut industri, perdagangan antarpulau, hingga ekspor-impor yang semakin dinamis.
Dalam suasana penuh kebersamaan itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Putranto, turut menyampaikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa di tengah dinamika global saat ini, para pelaku usaha harus terus melangkah dan tidak boleh berhenti beradaptasi. Tantangan geopolitik yang bergejolak, dinamika organisasi, hingga perubahan dalam dunia usaha telah membawa konsekuensi nyata berupa meningkatnya berbagai komponen biaya. Namun demikian, menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh menjadi penghambat, melainkan harus dijawab dengan kolaborasi yang lebih erat, efisiensi yang berkelanjutan, serta inovasi dalam setiap lini usaha.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kekuatan organisasi sebagai wadah bersama, agar dunia usaha tetap memiliki daya tahan dan daya saing. Dengan semangat kebersamaan yang terbangun dalam forum seperti ini, ia optimistis para pelaku usaha di sektor kepelabuhanan mampu menghadapi tekanan biaya sekaligus memanfaatkan peluang yang ada.
Namun di balik optimisme itu, forum ini juga jujur menatap tantangan global—geopolitik yang tak menentu, fluktuasi harga energi, hingga tekanan biaya logistik. Di sinilah kolaborasi menjadi kata kunci. Sinergi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan, agar sektor kepelabuhanan tetap tangguh dan kompetitif di tengah arus perubahan dunia.
Kehangatan malam itu semakin lengkap dengan tausiah dari Ustadz Akhmad Arqom, yang mengajak hadirin menanamkan nilai keikhlasan, syukur dan bahagia, menjaga integritas, serta merawat kebersamaan dalam setiap langkah usaha dan pelayanan.
Pada akhirnya, doa bersama menjadi penutup yang syahdu—sebuah harapan yang melangit, agar setiap aktivitas di Pelabuhan Tanjung Perak senantiasa diliputi kelancaran, keselamatan, dan keberkahan. Dari pertemuan ini, lahir kembali keyakinan: bahwa dengan kebersamaan yang tulus, pelabuhan ini akan terus berdiri sebagai gerbang logistik yang andal, menghubungkan harapan dari satu pulau ke pulau lain, dari negeri ini ke panggung dunia. (*)
Exchange Rate USD: Mon, 11 May.
Graha Asri Blok K-3
JL. Ngagel, No. 179-183, Surabaya,
Jawa Timur, 60246
gpei_sby@yahoo.co.id
gpeijatim1961@gmail.com
© 2023 GPEI Jawa Timur. All Rights Reserved.