🇮🇩 ID
🇮🇩
ID
Indonesia
🇬🇧
English
English
🇸🇦
Arab
العربية
🇨🇳
Mandarin
中文

BUDIDAYA PERTANIAN & CARBON STOCK

Efek rumah kaca adalah proses alami di mana gas-gas atmosfer memerangkap panas, mirip dengan bagaimana kaca memerangkap panas di rumah kaca. Sinar matahari memasuki atmosfer, memanaskan permukaan Bumi, dan kemudian panas tersebut diradiasikan kembali sebagai radiasi termal gelombang panjang. Gas rumah kaca menyerap sebagian radiasi ini, mencegahnya lepas ke luar angkasa dan menyebabkan Bumi menghangat. Aktivitas manusia telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca, mengintensifkan efek ini dan menyebabkan pemanasan global.

Kaitannya dengan Pemanasan Global

Efek rumah kaca sangat penting bagi kehidupan di Bumi, menjaga planet ini tetap hangat agar dapat mendukungnya. Namun psejak Revolusi Industri, aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil telah melepaskan sejumlah besar gas rumah kaca, sehingga meningkatkan konsentrasinya di atmosfer.

Penangkapan yang semakin intensif  menyebabkan  lapisan gas rumah kaca yang lebih tebal memerangkap lebih banyak panas, yang menyebabkan peningkatan efek rumah kaca yang menyebabkan Bumi memanas.

Konsekuensinya adalah  pemanasan ini dikenal sebagai pemanasan global dan merupakan pendorong utama perubahan iklim, yang menyebabkan naiknya permukaan laut, peristiwa cuaca yang lebih ekstrem, dan perubahan ekosistem.

Cuaca Panas Melanda Indonesia

Gelombang panas adalah peristiwa iklim yang menimbulkan peningkatan suhu panas yang tidak biasa. Gelombang panas biasanya terjadi selama 5 hari berturut-turut dengan rata-rata kenaikan suhu lebih dari 5°C dari suhu normal. Berdasarkan penjelasan dari BMKG, gelombang panas dapat terjadi apabila udara atmosfer bagian atas menekan udara permukaan sehingga terjebak. Alhasil udara dari wilayah lain sulit untuk masuk karena tekanan atmosfer yang tinggi. Kondisi ini akan meningkatkan suhu dan menghambat pembentukan awan.

Saat ini, gelombang panas sedang melanda beberapa negara wilayah Asia. Gelombang panas ini jadi yang terparah yang melanda negara Bangladesh, Myanmar, Thailand, Jepang, China, India, dan Laos. Suhu di negara-negara tersebut mencapai lebih dari 40°C. Suhu tertinggi terjadi di Bangladesh yang mencapai 51,2°C.

Akibat dari gelombang panas ini, sekolah sempat ditutup untuk membatasi aktivitas murid di luar ruangan. Lebih buruknya, tragedi ini merenggut korban jiwa sebanyak 13 orang di India dan 2 korban jiwa di Thailand.

Fenomena gelombang panas yang memburuk belakangan ini tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim yang kian masif. Perubahan iklim mengakibatkan gelombang panas lebih sering terjadi dan memperparah intensitas kenaikan suhu. Hal ini dapat menyebabkan permasalahan kesehatan, perekonomian, dan kematian.

Untuk itu, memperlambat laju perubahan iklim adalah solusi utama agar dampak gelombang panas tidak kian memburuk. Perubahan iklim hanya dapat ditekan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer. Langkah yang bisa dilakukan adalah mengurangi polusi dan pencemaran, restorasi dan konservasi lingkungan, peralihan penggunaan energi tidak terbarukan ke terbarukan, dan bijak dalam melakukan aktivitas konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Carbon Farming Technology

Budidaya pertanian memiliki hubungan erat dengan cadangan karbon (carbon stock), yaitu jumlah karbon yang disimpan di dalam ekosistem. Sektor pertanian dapat menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menyerap dan menyimpan karbon, terutama di dalam tanah. Pendekatan ini dikenal sebagai pertanian karbon. 

Hubungan budidaya pertanian dengan cadangan karbon 

Siklus karbon dalam budidaya pertanian melibatkan penyerapan karbon dari atmosfer oleh tanaman melalui fotosintesis dan penyimpanannya dalam biomassa tanaman dan bahan organik tanah. Praktik budidaya yang buruk dapat mempercepat pelepasan karbon ke atmosfer, sedangkan praktik yang berkelanjutan dapat meningkatkan cadangan karbon tanah. 

Bagaimana budidaya pertanian dapat memengaruhi cadangan karbon: 

  • Pelepasan karbon: Pengolahan tanah yang intensif, penggunaan pupuk anorganik berlebihan, dan pembakaran sisa tanaman dapat mempercepat dekomposisi bahan organik tanah. Hal ini melepaskan karbon dioksida () ke atmosfer.
  • Penyerapan karbon: Sebaliknya, praktik pertanian yang baik dapat meningkatkan laju penyerapan  dari atmosfer dan menyimpannya dalam tanah. Tanah yang kaya akan karbon organik menjadi lebih subur, memiliki struktur yang lebih baik, dan mampu menahan air lebih baik. 

Praktik budidaya untuk meningkatkan cadangan karbon 

Berbagai metode dan praktik pertanian dapat diterapkan untuk meningkatkan cadangan karbon dan mengurangi jejak karbon di sektor pertanian. 

Contoh praktik budidaya yang mendukung pertanian karbon: 

  • Pertanian tanpa olah tanah (no-till farming): Praktik ini meminimalkan pengolahan tanah, sehingga mengurangi gangguan pada tanah dan memperlambat dekomposisi bahan organik. Ini menjaga karbon tetap tersimpan di dalam tanah.
  • Tanaman penutup (cover crops): Menanam tanaman penutup, seperti polong-polongan atau semanggi, di antara musim tanam utama dapat membantu tanah menyerap karbon sepanjang tahun. Tanaman ini kemudian dapat dibenamkan sebagai pupuk hijau untuk menambah bahan organik.
  • Agroforestri: Mengintegrasikan pepohonan ke dalam sistem pertanian dapat meningkatkan cadangan karbon secara signifikan. Pohon-pohon menyimpan karbon di biomassa mereka dan sistem akarnya, sekaligus memperbaiki kondisi tanah.
  • Pemanfaatan pupuk organik dan kompos: Penambahan bahan organik seperti pupuk kandang atau kompos ke tanah dapat meningkatkan kandungan karbon organik tanah.
  • Rotasi tanaman: Menerapkan rotasi tanaman dapat meningkatkan masukan karbon ke dalam tanah dengan menggilir jenis tanaman yang berbeda, sehingga menjaga produktivitas tanah dan meningkatkan kesuburannya. 

Potensi ekonomi dan lingkungan 

Praktik pertanian karbon tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga dapat menciptakan nilai ekonomi. 

  • Pasar karbon: Petani yang menerapkan praktik penyerapan karbon dapat berpartisipasi dalam pasar karbon. Mereka dapat menjual kredit karbon yang dihasilkan dari praktik yang mengurangi emisi gas rumah kaca atau meningkatkan penyerapan karbon.
  • Peningkatan produktivitas: Tanah yang kaya karbon memiliki kesuburan dan retensi air yang lebih baik, yang dapat meningkatkan produktivitas dan ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim.

Inovasi teknologi

Perkembangan teknologi smart farming dan pertanian presisi juga mendukung upaya manajemen karbon dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan menekan emisi. 

Lokasi Kantor

Graha Asri Blok K-3, JL. Ngagel, No. 179-183, Surabaya, Jawa Timur, 60246, Keputran, Tegalsari, Surabaya, East Java 60265

Email

gpei_sby@yahoo.com

Telepon

(031) 5048861

Membership

© 2023 GPEI Jawa Timur. All Rights Reserved.

× CS Jatim Export